Crystal Moon

At the crystal moon, at the red branch,

At the slow autumn at my window

(Pablo Neruda)

Aku terkesiap melihatnya. Dia lagi. Berdiri tengah hingar bingar kota, tegap dan dingin seperti biasa. Sejumput rambut jatuh di dahinya, dia mengernyit menatap layar handphonenya, tidak perduli pada keramaian di sekelilingnya. Dalam balutan jaket hitam dan jeans pudarnya, dia menggerutu pada entah apa di layarnya. Dia nampak sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Ketika aku pergi meninggalkannya.

Aku berbalik arah, berusaha berjalan secepat mungkin, sejauh mungkin. Dia tidak boleh melihatku. Setelah semua yang terjadi, dia tidak boleh melihatku. Kalau boleh, selamanya kita tidak perlu bertemu lagi. Bukan aku takut pada apa yang mungkin dia katakan atau lakukan. Aku takut pada kemungkinan, takut pada apa yang mungkin aku katakan atau lakukan.

Setelah kurasa aku berjalan cukup jauh dan yakin dia tidak melihatku, aku melihat café kecil di sudut jalan. Tidak mungkin dia bisa melihatku di sini. Aku masuk, memesan secangkir cappuccino pada pelayan berambut pirang dan dia tersenyum mengiyakan. Kopi selalu menjadi pelarian terbaik untuk semua kegelisahanku. Kopi selalu menjadi teman terbaikku. Aku memilih sofa di sudut sehingga aku bisa melihat jalanan yang sibuk. Menjelang natal, jalanan selalu ramai dengan keluarga yang sibuk berbelanja, pasangan yang bergandengan dan tertawa kecil, anak-anak dan bayi-bayi kecil serta orang tua yang tertatih-tatih. Begitu hiruk-pikuk. Dan aku bersembunyi di sini, dari pria yang mencuri hatiku.

Enjoy your coffee”, pelayan itu datang membawakanku secangkir kopi yang masih mengepul.

Thanks a million, dear”, aku tersenyum.

Aku menghela nafas. Kuhirup aroma cappuccino pesananku. Aku selalu suka aroma kopi dan efeknya yang memabukkan. Pikiranku kembali ke sudut jalan dimana aku melihat dia. Arghh…aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dia lagi. Setelah berbulan-bulan aku berusaha membuangnya dari ingatanku. Tiba-tiba dia ada disini. Ribuan kilo jauhnya dari Indonesia. Kenapa dia di sini? Kenapa dia tahu aku di sini? Aku bahkan tidak berkata apa-apa pada siapapun ketika aku pergi. Tentu saja bapak ibuku tahu walaupun mungkin mereka tidak tahu sebenarnya apa tujuanku pergi ke sini. Nadia, sahabatku, kupamiti sehari sebelum aku berangkat dan ternganga tidak percaya betapa aku melarikan diri sejauh ini hanya demi menghindar dari pria itu. Hanya saja tawaran pekerjaan itu datang tiba-tiba, saat aku sedang patah hati, saat aku pikir duniaku rontok berjatuhan, dan aku berkata iya tanpa berpikir panjang.

Waktu yang tepat, tempat yang tepat. Aku tidak perlu bertemu dia lagi. Seperti matahari tidak perlu bertemu bulan di satu langit yang sama. Supaya mereka bisa bersinar dengan sendirinya. Mereka datang bergantian dan menghiasi langit bergantian. Mereka sirna kalau bersentuhan. Dia matahariku. Dan aku cukup tahu diri untuk pergi ketika dia bersinar.

“Adriana…” suara itu mengalunkan namaku.

Aku menengadahkan wajah dari cangkir kopiku dan menatap sesosok pria itu di pintu café. Aku diam. Jantungku berhenti berdetak sepersekian detik ketika melihatnya. Dia di sini.

Matahariku…

-to be continued-