LDM (Long-Distance-Mothership): Welcome to the craziness

Pernah atau akan mengalami LDM (istilah saya untuk Long-Distance-Mothership) atau kondisi yang mengharuskan anda berjauh-jauhan dengan anak karena satu dan lain hal? Bisa dalam rentang 1 hari, 1 minggu, 1 bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Bisa beda kota, beda negara atau bahkan beda benua. Well, nobody said it was easy kalau kata Coldplay. Saya mengalami berjauh-jauhan dengan dua anak saya yang berusia 24 dan 8 bulan selama kurang lebih 6 bulan. Rasanya? Kalau belum pernah merasakan mungkin saya bisa bilang mending tidak usah mencoba mau merasakan. Sakitnya jauh lebih sakit daripada ditinggal pacar selingkuh atau ditolak calon gebetan. Ratusan kali lebih sakit dari sakit gigi 🙂

Kebetulan beberapa teman saya, sesama ibu-ibu, akan pergi meninggalkan anak (-anaknya) selama beberapa waktu untuk sekolah. Dan mereka bertanya kepada saya ‘kayak apa sih rasanya’ dan ‘bagaimana resepnya’. Rasa-rasanya saya lebih mudah bercerita lewat tulisan ini untuk mereka atau untuk ibu lain yang ingin tahu.

Sebenarnya bagaimana resepnya? Well, saya nggak bisa bilang ini resep tapi lebih ke apa yang saya lakukan selama perpisahan beberapa bulan ini. Semoga bermanfaat.

Topnews.in

Sumber: Topnews.in

 

1.Pre-Departure

The Inception

Sebelum berangkat, saya selalu bercerita pada kedua anak saya bahwa saya akan pergi jauh untuk sekolah untuk beberapa bulan. Karena mereka belum paham konsep jauh, saya bukakan map dan saya tunjukkan posisinya. Dan saya jelaskan “Indonesia di sini, terus Bunda sekolah di Irlandia yang ada di sini…” dan diulang terus-menerus. Si kakak cuma bengong2, si adek malah milih minum susu. Tapi saya niatkan saja siapa tahu berguna.

Your Guardian Angels

Akan sangat baik apabila Anda memiliki orang-orang terpercaya untuk menjaga anak Anda. Tentunya saya punya suami yang sangat care (yaelah bisa besar kepala dia) dan bisa menjadi jembatan komunikasi yang baik dengan orang-orang terpercaya lainnya. Untungnya saya dibantu mama mertua dan si mbak untuk si kakak, dan khusus untuk si adek kami sepakat untuk menitipkannya pada ibu saya karena dia masih terlalu kecil dan belum ada yang berani ‘megang’ dia sendiri. Komunikasikan terus menerus apa harapan kita terhadap orang-orang ini selama kita pergi but no pressure karena mereka pasti punya kebiasaan sendiri. Hal ini jelas sulit dihindari. Idelisme Anda dalam mendidik anak jelas tidak bisa dipaksakan.

The Scenario

Paling bagus kalau Anda kemudian membuat skenario akan apa yang terjadi setelah Anda pergi. Misal pagi bangun pagi si anak akan makan apa, ke sekolah/daycare jam berapa dengan siapa, pulang dijemput siapa dan tidur dengan siapa. Sehingga kemudian bisa mempersiapkan hal-hal yang dirasa perlu. Jadi saya jadi tahu bahwa saya harus mengajari si mbak apa saja yang harus dipersiapkan di tas kakak untuk ke sekolah. Saya mengajari si adek minum susu dari botol karena selama ini saya tidak pernah ngasi susu dari botol. Kebayang khan ribetnya ngajarin bayi minum dari botol? Sebulan lebih saya mencoba botol satu ke botol yang lain, mulai dari cup feeder, sendok, botol leher panjang, botol anti sedak, etc. dan semuanya ditolak si adek. Pusingnya sampai ubun-ubun kepala. Khawatirnya pake banget gimana kalau dia gak bisa minum terus kurus dst dst (yang ternyata tidak terbukti wong sekarang anaknya gemuk banget).

2015-08-19-19-34-51_deco

I cried A LOT!!! (August 2015)

2.Post-Departure

The Fever

Shock ketemu tempat baru, cuaca baru, makanan baru plus belum punya teman yang bisa diajak ngobrol belum lagi perbedaan waktu 6 jam dengan rumah membuat saya stress dan sempat demam selama 2 hari tanpa sebab. Kangen dengan anak-anak dan suami bikin super sedih. Kehilangan momen ketika anak bisa berjalan pertama kali, naik sepeda pertama kali, pergi ke pantai pertama kali benar-benar menyayat hati. Perasaan bersalah bikin saya nangis nangis dan nangis. But this is your choice you’ve made! Face it! Kata saya berkali-kali pada diri saya sendiri. Toh saya sudah tahu resikonya. Obatnya adalah foto anak-anak yang saya cetak dan tempel2 di dinding kamar, video mereka yang saya tonton ratusan kali, skype time dengan anak-anak sesering mungkin dan membayangkan the good times with them when you come back home. 

The Problem

Namanya punya anak dan keluarga, masalah pasti ada. And trust me, when the problem is not in front of you, it is getting harder and harder. Misalnya saja ketika si kakak sakit, alerginya parah membuat dia harus bolak-balik ke dokter. Biasanya saya yang menangani proses ke dokter, ngobrol dengan dokter plus nanya-nanya masalah obat. Privilege ini kemudian jatuh ke suami yang tidak biasa dengan hal ini. Obrolan kami tiap hari hanya membahas penyakit, dokter, obat, dst. Belum lagi ketika muncul masalah-masalah internal yang sulit banget dibahas lewat line/whatsapp, sebaik apapun jalur komunikasi yang ada saat ini tidak bisa mengalahkan the great face-to-face conversation. Bersyukurlah karena Anda masih punya momen-momen ngobrol santai dengan suami diselingi minum kopi dan makan roti 🙂

Pictureofbabies.net

Sumber: Picturesofbaby.net

The Distraction

Untuk mengobati rasa kangen anak dan jauh dari rumah, saya menenggelamkan diri dalam rutinitas kampus, menikmati waktu saya membaca buku dan jurnal, berlama-lama di perpustakaan, ngobrol dengan teman setelah kelas, dst. Hal-hal yang membuat saya sibuk dan happy. Selain itu setiap weekend saya bekerja di sebuah coffee shop and bakery, saya belajar membuat kopi dan kue serta melayani tamu bule yang mintanya aneh-aneh.Selain itu saya juga punya jadwal jalan-jalan ke beberapa kota, beberapa negara serta sesekali berkeliling menjelajah dengan sepeda. Intinya saya menggunakan waktu saya semaksimal mungkin, bahwa saya meninggalkan anak-anak di Indonesia merupakan sebuah keputusan tapi setiap detik yang saya miliki harus sama berharganya dengan apa yang saya tinggalkan. Dan meminjam kata-kata suami saya “you must be happy for what you choose, for not, it’s a big dissapointment for me” (*tears*)

Then time passed by…

Very fast…

Sometimes it felt too fast…

3.After Arrival

The Information

Sampaikan informasi pada anak bahwa kita akan pulang ke Indonesia dengan pelan-pelan. “Bunda sebentar lagi pulang kerumah, kakak mau ajak Bunda pergi kemana?” Untuk anak-anak yang belum terlalu paham konsep waktu, kata ‘sebentar’, ‘minggu depan’ atau ‘besok’ masih sulit dipahami. Anak saya memahaminya dengan dia akan ketemu bundanya dalam waktu cepat. Akhirnya dia cranky selama beberapa hari. Penyampaian kepulangan juga harus sehalus mungkin, melihat kemungkinan apakah akan membuat dia bersemangat atau justru malah rewel. Lebih baik memberi tahunya paling cepat seminggu sebelum hari H supaya dia tidak menunggu terlalu lama.

The Gathering

Apakah pertemuan itu seindah yang dibayangkan? Setelah 6 bulan tidak berjumpa anak-anak dan suami tentu rasanya happy banget, bisa  memeluk anak-anak yang selama ini cuma dibayangkan dalam mimpi saja. Sayangnya pertemuan ini tidak semulus perkiraan saya, terutama karena si adek yang dulu masih berusia 8 bulan waktu ditinggal rupanya sama sekali tidak ingat akan saya. Sedih banget ya khan anak yang dulu dikandung dan disusui, disayang-sayang tidak mau dipeluk. Jangankan digendong, saya mendekat saya dia nangis teriak-teriak. Rasanya??? Sakitnya nggak kebayang. Tapi karena saya pada dasarnya lumayan cuek, saya menyibukkan diri dengan urusan berkas-berkas kampus, tes dan interview sana-sini dan janjian dengan teman-teman lama. Tapi untuk Anda yang melankolis, persiapkan diri Anda dengan kondisi seperti ini bahwa semua merupakan hasil dari keputusan yang sudah Anda buat dengan matang. Tidak perlu menyesali apapun.Akhirnya si adek mau dekat dengan saya setelah perjuangan 3 minggu pedekate, iya pedekate macem mau pacaran 🙂

Home is (Not) Home

Akan ada masa-masa mengingkari bahwa Anda sudah kembali ke Indonesia yang panas, macet, semrawut, tidak tertib, kotor, makanannya terlalu pedas dan berkalori, etc. Anda akan rindu dengan negeri nan jauh yang dingin, roti keju dan butter yang nikmat, bersepeda ke kampus, ngobrol ngalor ngidul dengan teman tanpa harus ngurusin anak, belajar serius tanpa harus ganti popok. Yes, it will happen. Tapi perlu diingat bahwa dunia yang nyata, rumah yang sebenarnya adalah bersama keluarga (ini prinsip saya sih). Bahwa Anda punya kesempatan belajar/bekerja di negara lain merupakan privilege yang Anda miliki tidak menjadikan Anda bukan ibu atau bukan orang Indonesia. Tidak ada gunanya menjelek-jelekkan negeri sendiri toh tanah ini yang membesarkan Anda hingga menjadi orang yang seperti sekarang. Justru inilah saatnya berjuang membuat negeri kita semaju, seindah dan senyaman negeri orang tersebut. Ini hutang yang harus Anda bayar terhadap negeri ini.

The Gathering

When we meet again (January 2016)

Untuk ibu-ibu yang akan berangkat, tetap semangat dan positif bahwa hal ini akan menjadi nilai tambah bagi keluarga kecil Anda.

Untuk ibu-ibu yang ada di rumah, berbahagialah bisa memeluk dan mencium anak-anak Anda. Percayalah, hal itu terlalu berharga untuk dilewatkan.

Untuk wanita yang akan menjadi ibu, sebuah renungan bagi Anda ke depan.

Untuk ibu-ibu yang memiliki pengalaman hampir sama dengan saya, saya yakin bahwa apa yang kita pilih merupakan pilihan terbaik. Terlepas apapun kata orang terhadap Anda atau saya, kita tetap seorang ibu.

 

Yogyakarta, 21 Februari 2016